Hari ini saya menggunakan batik seragam fakultas tempat saya bernaung. Sebenarnya sih ini bukan baju baru, tapi karena merasa sebagian status sebagai mahasiswa, maka kemaren2 dia pun enggan makenya. Malulah kalo ketemu dosen pembimbing dengan setelan batik yang rapih dan anggun ini, sementara sang dosen cuma pake baju sederhana aja he he. Jadilah ini jumat pertama si saya pake batik.
Niat pake batik sih hanya karena merasa bertanggungjawab setelah dianugerahi batik sama fakultas, wajib dong menghargai pemberian dengan memakainya. Ada perasaan aneh ketika menjumpai teman2 dari jurusan yang lain memakai baju yang sama dengan yang saya pakai, secara belum semuanya saya kenal dengan baik he he. Perasaan seperti “eh dia pake baju yang sama!”. Padahal dulu rada ga PD pas d kantor ngeliat teman2 yang lain pada pake baju seragam sementara saya tidak.
Dan karena saya suka mikir hal yang remeh temeh bin ga penting, muncullah pertanyaan2, kenapa sih fakultas ini mengharuskan pegawainya pake batik tiap jumat? kl tujuannya utk melestarikan batik rasanya bukan jawaban yang tepat. Karena untuk tujuan ini, berarti semua pegawai bebas dong untuk memakai batik apapun, ga usah seragam.
Saya jadi teringat kalau dahulu selama 12 tahun, 6 kali seminggu, saya wajib menggunakan seragam sekolah. Durasi pemakaian seragam bertambah lama pada teman saya yang kuliah di tempat yang mengharuskan berseragam. Katanya sih tujuan seragam itu untuk menunjukkan identitas tempat anak yang menggunakan seragam itu bersekolah. Tujuan tambahan lainnya untuk mengurangi kesenjangan sosial, jadi anak orang kaya maupun anak orang miskin sama-sama menggunakan seragam. Alasan yang terkesan mengada-ngada, karena anak orang kaya dan anak orang miskin dapat segera terlihat berbeda dari merk sepatu, tas, aksesoris, dan peralatan sekolah yang dipakai. Ada yang pernah mencoba melanggar dengan tidak memakai seragam ketika sekolah? Walaupun saya tidak pernah mencobanya, tapi saya tahu ganjaran apa yang akan saya terima apabila nekat.
Ga harus sekolah aja pake seragam, pada perhelatan kerabat, bersama teman2 satu geng kerapkali kita memakai seragam, Saya mengambil kesimpulan bahwa orang Indonesia itu suka banget sama yang namanya seragam. Apakah dengan menggunakan seragam akan terlihat lebih bagus?
Penyeragaman pakaian memang tampak sebagai sesuatu yang remeh temeh, tapi menurut saya inilah akar racun yang menyebabkan kebanyakan orang berpikir bahwa segala sesuatu harus seragam. Bukan hanya baju tapi juga cara berpikir, berpendapat, agama dan lain sebagainya harus seragam. Sehingga kita sulit menerima perbedaan orang, dan orang yang berbeda pun menjadi ga PD dengan keadaan dirinya. Kalau di komunitas kita kebanyakan adalah kulit putih, maka teman yang berkulit hitam akan menjadi bulan-bulanan. Kalau sekarang tren rambut wanita berponi, maka seluruh wanita Indonesia berbondong-bondong membuat poni di salon. Kalau ga ikut berponi rasanya ga PD. Kalau ada seseorang yang dandanannya ga seperti tren yang sedang berlangsung (gaya jadul) maka dengan mudah orang2 mentertawakannya. Kalau ada seseorang yang menganut agama minoritas berada di sekeliling orang yang menganut agama mayoritas, maka dia pun akan sangat sangat malu mengakui identitasnya sebagai penganut agama minoritas. Contoh-contoh di atas masih merupakan contoh yang bebannya ringan. Yang paling terasa berat adalah apabila kita tidak bisa menerima perbedaan pendapat. Kerapkali saya berbeda pendapat dengan orang-orang di sekeliling saya. Dan menjadi berbeda itu sulit. Kerapkali saya terpaksa mengalah menyeragamkan pendapat hanya demi alasan menjaga perdamaian dunia he he. Dan kalaupun saya tetap dengan pendirian saya, bukan karena saya keras kepala atau tidak bisa diajari, tapi karena saya tahu betul apa yang harus saya lakukan.
Saya berbeda dengan kamu, kamu dan kamu, dan saya bangga karenanya.
Didedikasikan untuk keluarga khususnya Bapak yang selalu berbeda pendapat dengan saya.



